Thursday, October 31, 2013

SD Inklusi, SD Luar Biasa, atau Homeschooling..???

Saat ini Rayhan sudah TK-B. Tahun depan kami rencanakan masuk SD. Meskipun psikolog menyarankan dua tahun lagi, tapi mengingat umur rayhan tahun 2014 sudah 7,5 tahun, dan cukup besar untuk tetap tinggal di TK, maka kami tetap memutuskan untuk masuk SD.
SD mana... ???

Nah loh... SD mana ya...?
Mungkin SD Inklusi. mampukah Rayhan...? Efektif-kah rayhan belajar di bidang akademik di SD reguler/inklusi... ??
atau SD Luar biasa...
efektif-kah.. ?? Apakah mampu bemberi stimulus yang cukup baik untuk Rayhan selain bidang akademik..??
atau Homeschooling atau Sekolah Rumah.. ??
mampukah saya? cukupkah stimulus lingkunngan yang saya berikan pada Rayhan... ??

atau Unschooling.. ?? Belajar tanpa sekolah...??
-waduh kalau yang ini saya tidak berani ambil pilihan-

Maka, H-setahun rayhan masuk SD, alias satu tahun sebelumnya, mulai bulan Agustus kemarin, saya pun berkeliling. Survey dari satu SD ke SD yang lain. Selalu saya awali dengan pertanyaan "apakah bisa menerima anak berkebutuhan khusus disini??"
juga ke SDLB, juga ke komunitas Homeschooling...

masih lama sih, setahun. Tapi setahun itu cepat sekali tanpa terasa. Kalau tidak dipersiapkan kemampuan, pemahaman, kemandirian, dan sekolah mana yang dipilih.. DARI SEKARANG... saya dijamin akan panik kesana-kemari nanti bila sudah mepet pendaftaran siswa baru.

selain survei sekolah, juga jajak pendapat, diskusi... dengan siapapun tentang pendapat mereka sekolah mana yang sebaiknya diikuti Rayhan, karena ketiga pilihan (Inklusi, SDLB, Homeschooling) semuanya punya kelebihan masing-masing.

Akhirnya, pertimbangan penting terakhir adalah saya tanya Rayhan... mau sekolah atau belajar di rumah...??
jawabnya sungguh mengagetkan.. " AKU MAU SEKOLAH SMA.. "
hahahaha...
wokeylah...

Sekolah inklusi + Home education sepertinya paling pas.
Sekolah reguler + belajar di rumah sepertinya paling pas. Kepala sekolahnya SAYA, IBUNYA...

Saturday, September 21, 2013

Bila Rayhan TANTRUM

Bismillaahirrahmaanirraahiim
 
TANTRUMnya Rayhan... ??
Apa sih tantrum itu... ?? saya mengutip dulu dari PSIKOLOGI ZONE, sebelum bercerita tentang Rayhan
Tantrum adalah perilaku marah pada anak-anak prasekolah. Mereka mengekspresikan kemarahan mereka dengan berbaring di lantai, menendang, berteriak, dan kadang-kadang menahan nafas mereka. Tantrum yang alami terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustasi karena tidak terpenuhi keinginannya. Ada beberapa sebab tantrum, diantaranya memiliki masalah dengan kemampuan bicara, dan termasuk rasa lelah dan lapar.

Kapan tantrum ini mulai harus menjadi lampu “kuning” bagi perkembangan anak?
Jika saat marah, anak sering mengalami masalah lain seperti menghisap jempol, menggigit diri sendiri, membenturkan kepala, menendang-nendang diri sendiri, dan menyebabkan anak jadi sulit tidur. Jika perilaku tantrum bermasalah terrsebut berulang lebih dari tiga kali sehari, secara rutin ataupun tidak, dan tantrum bertahan selama 15 menit atau lebih.

Naaahh... begitulah saat Rayhan tantrum. Meskipun tidak sampai menggigit diri sendiri, atau membenturkan kepala... rewelnya, tangisannya, kemarahannya sebegitu hebat sampai lama. Sampai kami bingung membujuknya untuk diam. Sampai kami akhirnya membiarkannya menangis.. “nak, menangislah, jika itu memuaskan kemarahanmu” seolah kami berkata demikian. Sampai kadang kami seolah ‘cuek’.. padahal karena kami tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan untuk menenangkannya.
Kalau di rumah gak terlalu masalah... kalau di tempat umum... ?? malu, panik, bingung...
Tapi, begitu Rayhan mulai bisa bicara usia 3 tahun, mulai bisa menunjuk, bisa memilih... tantrumnya perlahan berkurang... sampai akhirnya.. saat ini, mungkin hanya sesekali dia merengek nangis tanpa tantrum.. 

Apa yang menyebabkan Rayhan tantrum.. ?
TIDUR, MAKAN, KEINGINAN PERGI ke suatu tempat, Tidak NYAMAN dengan sesuatu, terlalu LELAH.
Bagaimana supaya Rayhan tidak tantrum, atau mewek merengek... ? Tidur cukup, makan cukup (tidak kelewat lapar), tidak terlalu lelah aktifitas seharian. Tidak selamanya sesuai rencana kami.
Maka, di acara tertentu, kami biasanya sudah menyiapkan PLAN B untuk menenangkannya. Mainan, makanan, minuman, buku baru, membawa benda kesukaannya ke suatu tempat.. dannnnn... KESEPAKATAN saat akan pergi ke suatu tempat. Belanja misalnya. Saat akan berangkat, kami bersepakat dulu, belanja kemana, beli apa, apa yang boleh dibeli rayhan, berapa jumlahnya, dan setelah belanja langsung pulang atau ke suatu tempat terlebih dahulu. Tentu saja saat berangkat Rayhan harus sudah makan, minum, pipis, dan bangun tidur pagi tidak terlalu awal ataupun kesiangan, tidur malamnya juga tdk kelewat ngantuk.
YUP... yang penting saat Rayhan marah, saya harus menunda kemarahan saya. Jangan sampai kami kondisi pengen marah dan bete bersama-sama.
Alhamdulillaah

POLA.. --prosedur operasional standar--


Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Pola aktifitas keseharian. Begitulah kira-kira yang akan saya curhatkan kali ini. Bagi Rayhan, pola itu begitu pentingkah?? Bagi saya, itu POLA.. terpola.. dipolakan, saya polakan. Saya atur dan jaga supaya pola setiap hari tidak banyak berubah. Terutama untuk aktifitas rutin seperti tidur, makan, sekolah, baju, sampai tidur lagi saat malam hari. Tidak SAKLEK.. tidak kaku, tapi tetap terpola... (hehehe sepertinya saya mulai mbulet... ).

Tapi bagi Rayhan, itu seperti SOP.. Standar Operational Procedure.. Prosedur operasional standar.
Jam bangun tidur,  apa yang dilakukan saat bangun, kata-kata apa yg biasa saya ucapkan saat dia bangun padanya, bagaimana cara saya menawarkan menu sarapan yang sesungguhnya sudah saya siapkan saat dia masih belum bangun, pakaian apa yang ingin dia pakai... begitu seterusnya sampai membaca doa tidur saat malam dan terlelap...

Dulu, saya hampir tidak mengerti dengan pola hidup Rayhan. Bangun tidur jam 11 siang, makan sewaktu-waktu kapan saja dia merasa lapar, kapan saja dia mengantuk akan rewel lalu tidur, dan tiddur lagi saat dini hari jam TIGA PAGI sodara-sodara...  Maka sayapun mengikuti jadwalnya dengan terengah-engah, lesu, capek, dan ngantuk luarbiasa...  Saking bingungnya apa yg harus saya lakukan padanya saat jam duapagi, maka kami terbiasa menonton siaran bola di tipi sambil mendengarkan Rayhan tertawa-tertiwi melihat bola melambung kesana-kemari.

Kadang , Rayhan tidur awal... jam tujuh malam. Maka, saya jadi was-was karena dia akan terbangun nanti jam satu malam dan segar bugar melek sampai matahari terbit. Lalu tidur lagi sampai tengah hari... Oh MY GOD... capek sekali. Karena saat pagi hari aktifitas segunung menanti  saya.
Saat itu saya sungguh tak menyadari tentang POLA, atau JADWAL teratur buatnya. Selain hanya stress badan dan lelah...

DIET... kenapa tiba-tiba saya membahas DIET... ??? Apa hubungannya dengan POLA buat Rayhan.
Usia 1,5 tahun, Rayhan harus diet buanyaaaaaaak jenis makanan. Terutama terigu, susu sapi (casein), gula, penyedap (meskipun memasak di rumah saya sudah tak pernah pakai), pewarna buatan, makanan instan, beberapa jenis buah-buahan... dan buanyaaaak yang lainnya lagi.

Tanpa kami sadari.. POLA terbolak-balik dan semaunya mulai pelan-pelan teratur berubah. Dan kami benar-benar belum sadar (waktu itu) bahwa diet makanan berpengaruh besar pada perubahan POLA hidup Rayhan. Lalu... tugas kami selanjutnya adalah menjaga pola yang sudah terbentuk tetap berlaku setiap harinya. Rayhan tidak boleh bangun pagi terlalu pagi atau terlalu siang. Rayhan minta ditawarkan tentang baju apa yang akan dipakainya. Menu apa yg biasanya dimintanya saat makan pagi, dan seterusnya sampai SOP saat pulang sekolah, mengerjakan PR, dan tidur malam hari...

Sebenarnya sih.. menurutku, setiap orang juga punya SOP. Tidak hanya anak autis saja. Ada yg SOPnya begitu saklek, ada yg bisa dikompromi. Tapi mungkin juga ada beberapa orang yang tidak peduli dengan aturan, pola, SOP.. tapi justru ketidakpeduliannya itulah SOPnya..

Apa yang terjadi jika SOP Rayhan berubah, atau tidak bisa diterapkan saat tertentu. Misalnya, Rayhan bangun terlalu pagi atau kesiangan. Hhhmmm maka, jadwalnya hari itu akan berubah. Bawaannya pengen marah sehingga kami berusaha menenangkannya seanjang hari. Kami berusaha terus senyum dan tidak terbawa kemarahannya. Tidur siang akan lebih awal atau justru mundur. Tidur malam pun juga demikian. Kalau kami tidak cepat membawanya kembali pada rel SOP semula.. keesokan harinya semua akan berubah. Dan jadwal selama beberapa hari akan berubah pula. (hiyaaaaa... kami harus kerja keras untuk mengembalikan jadwalnya). Sampai akhirnya kami berhasil membangungkannya pagi hari dengan pas, dan seterusnya sampai tidur lagi saat malam hari.

Semakin besar, saat ini 6 tahun  9 bulan,  tentu tidak terlalu berpengaruh banyak. Meskipun tetap saja bawaannya pengen uring-uringan. Tapi begitu malam harinya kami mengajaknya tidur sejam lebih awal, maka esok harinya jadwal Rayhan akan teratur kembali dan kembali tenang. Tapi tetap saja bagi yang tidak mengenal Rayhan, akan bingung, akan merasa Rayhan rewel, pemarah, dan sebagainya. Sampai-sampai kami pun harus menjelaskan apa penyebab Rayhan tiba-tiba jadi BETE hanya karena tidurnya bangun terlalu awal atau bahkan kesiangan. Atau hanya karena Rayhan kelewat lapar atau justru kekenyangan, atau hal sepele karena bajunya tak sesuai dengan kehendaknya.
Ah... berikutnya saya harus nulis tentang tantrumnya...
Alhamdulillaahirrabbil'aalamiin

ADIK RAKA



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Saya sering berfikir tentang mengubah nama blog ini. Kenapa....? nama blog ini the special Rayhan. Dulu, mulai saya buat saat saya ingin curhat, ingin bercerita, ingin mengeluarkan uneg-uneg yang mengendap di kepala saya. Terutama tentang Rayhan. Saat itu, memang saya baru punya satu anak. Sampai saat adiknya Rayhan lahir pun, kembar Raka-Rayi, saya belum berfikir untuk mengubah nama blog ini. Hanya isinya saja yang akan saya tambah bagaimana Rayhan berinteraksi dengan adik kembarnya. 

Namun, belakangan... saat ternyata adik kembarnya juga special. Raka juga autis, dan Rayi speech delay, saat itulah terfikir untuk mengubah nama blog ini... atau justru membuat blog baru untuk adiknya...

Raka begitu istimewa. Meskipun sama-sama penyandang autis, kasusnya sangat berbeda dengan Rayhan. Begitu istimewa, sehingga kalaupun saya ingin menulis tentangnya, tidak sesuai dengan nama blog ini. Begitu juga saat kami menghadapi kenyataan bahwa Raka juga penyandang autis. Sangat berbeda dengan waktu dulu kami menerima ketok palu bahwa Rayhan autis...
Ah, RAKA begitu istimewa....
Hhmm.. bisa gak ya ngubah nama blog...??? digital mommy yg gak tahu nih... butuh belajar lagi
Alhamdulillaah

Saturday, July 28, 2012

RAYHAN BISA MEMBEDAKAN ADIK KEMBARNYA, ENTAH DENGAN METODE APA

Tadinya saya berusaha keras melototi banyak foto kegiatan TBM WACAN, dan berharap bisa menggabungkan banyak foto peristiwa dan kegiatan menjadi sebuah cerita menarik.  Lalu mengunggahnya ke www.tbmwacan.blogspot.com, Tetapi ternyata, justru konsentrasi saya buyar karena Rayhan menghampiri saya, sambil menunjuk adiknya dan berkata "Itu adik Rayi", dan telunjuknya berpindah ke adik yang lain di dekat jendela "Itu adik Raka". Saya pun tersenyum. "Iya mas, itu adik Rayi, itu adik Raka". Lalu saya kembali memandangi deretan foto, tapi gagal kembali fokus pada niatan saya semula. Pikiran saya tertuju pada Rayhan. "iya ya... selama ini saya tidak pernah mengajarkan bagaimana membedakan kedua adiknya yang kembar identik. Lantas bagaimana Rayhan bisa membedakan mereka, dan selalu benar. Bahkan sejak Raka-Rayi masih berumur sekitar tujuh bulan, Rayhan sudah bisa membedakan keduanya. Orang lain saja kesulitan. Kami pun orangtuanya sesekali masih perlu waktu sekian detik untuk memastikan mana Rayi dan Raka.
Saat mengetik ini, saya masih terdiam, dan mikir "Kok bisa ya..?? Bagaimana Rayhan bisa  membedakan keduanya??"


Iseng, saya coba lagi tanya "Mas Rayhan, ini adik siapa?" . Jawabannya BENERRRRR...!!! Saya bertanya lebih lanjut "Kok bisa tahu yang ini adik Rayi?", ternyata dia tidak bisa memahami pertanyaan saya yang kedua. Karena penasaran, saya ulangi lagi "Adik Raka mana? Coba tunjuk adik Raka !" ... BENERRR lagi..

Friday, March 23, 2012

Cerita tentang Rayhan dalam Sebuah Shooting TV Lokal

Pada tanggal 26 Oktober 2011, saya dan Rayhan diundang untuk menjadi tamu dalam acara dialog keluarga, di sebuah televisi lokal kota Batu. Waktu itu, temanya tentang mendampingi dan penanganan anak hiperaktif. Kebetulan, Rayhan termasuk dalam kategori anak hiperaktif. Tentu saja saya sangat gembira... bukan hanya karena masuk TV (he he he) tapi juga, sebuah kesempatan besar untuk mas Rayhan untuk belajar tentang sebuah proses pengambilan gambar sampai sebuah tayangan TV bisa dilihat di rumah. Saya sudah tidak sabar menantikan kami ke lokasi shooting. Sehari sebelumnya, saya berusaha mengkondisikan Rayhan untuk menyiapkan diri saat pengambilan gambar. Tidak mudah menebak mood seorang anak autis. Apabila dia merasa tidak nyaman, maka perilakunya akan berubah menjadi tidak nyaman pula bagi sekelilingnya. Padahal sebenarnya perilaku itu muncul sebagai usahanya untuk menyamankan diri. Mungkin hampir sama dengan perilaku kita berjalan mondar-mandir apabila sedang bingung. Namun, tentu dengan porsi dan pengendalian yang jauh berbeda. Apalagi, mengingat program TV tersebuat akan ditayangkan secara langsung. saya sebenarnya merasa sedikit deg-degan juga... "Semoga mas Rayhan esok hari bisa tenang, sejam saja... setidaknya..."

Persiapan saya mulai dengan menonton stasiun TV yang mengundang kami di rumah. Saya menjelaskan bahwa besok kita akan melihat dan bermain ke stasiun TV tersebut. Mata Rayhan berbinar mendengar penjelasan saya, meskipun dengan bahasa yang singkat yang dia mengerti. Tidak lupa, saya jelaskan logo TV yang ada di pojok layar kaca kami. Kebetulan Rayhan sudah bisa membaca, jadi tidak sulit baginya mengenali huruf di logo TV tersebut. Tidur cukup dan tidak terlalu malam, mood saya jaga supaya senang, makanan kesukaan juga saya sediakan, dan hampir semua hal yang tidak disukainya saya hindarkan. Juga baju yang saya siapkan adalah baju yang disukainya. dan.... sssssttttt... saya menyiapkan jimat "senjata pamungkas", yang akan saya keluarkan bila Rayhan mulai bosan (rahasia ya...???).

Keesokan harinya, Rayhan bersemangat sarapan, mandi dan berganti pakaian. Berulang kali saya katakan bahwa kita akan melihat kamera TV... "yess...!!!" jawab Rayhan sambil mengepalkan tangan. Awal berangkat, kami menumpang mobil psikolog yang juga mendampingi kami. sampai di lokaasi shooting, luar biasa Rayhan senang, melihat kolam ikan, berkeliling lokasi, naik turun jembatan buatan, sampai saya mengenalkan tempat toilet dan cuci tangan.


Begitu melihat mobil TV yang dimaksud datang, luar biasa sukacitanya... bersorak dan tepuk tangan. Lalu Rayhan saya ajak berkeliling lebih dekat untuuk menyaksikan para kru menyiapkan kamera, soundsystem, kabel dan lain-lain. Saya merekamnya dalam video (selalu saya lakukan dimanapun, karena, sesampainya di rumah, video akan saya putar kembali untuk menjelaskan kembali sebagai review belajar Rayhan). Rayhan menlihat dengan detil kru menyiapkan kamera... dan, proses shooting pun dimulai. Selama setengah jam pertama, Rayhan masih asik dengan kertas gambar, dan terus menggambar logo TV tersebut, sambil tiduran di lantai. Setengah jam berikutnya, saya sempat berkeringat, karena Rayhan mulai bosan dan berjalan-jalan dari satu kamera ke kamera lainnya. Jimat pertama pun saya keluarkan, KUE dan MINUM kesukaannya. Sepuluh menit bertahan tenang kembali. Setelahnya mulai lagi berjalan menuju kamera, memencet-mencet tombol, mendekatkan wajah ke lensa kamera, lalu melihat layar display kamera, memencet-mencet keyboard piano... dan akhirnya JIMAT PAMUNGKAS, terpaksa saya keluarkan. Sebuah ATM dan dompet yang saya pinjam dari seorang teman, yang tidak saya miliki (karena kalau ATM kami, Rayhan sudah bosan). Sebenarnya, saya tidak ingin melakukannya, tapi tidak ada pilihan lain. Dia bertahan tenang sampai akhir acara, bahkan di akhir acara, Rayhan ikut main piano dengan lagu yang asal saja diciptakannya sendiri... Salut mas Rayhan. Kekurangan saya saat itu, adalah, saya LUPA tidak membawa MAINAN kesukaannya. Seandainya saya bawa, mungkin saya tidak perlu mengeluarkan JIMAT PAMUNGKAS berupa ATM, yang seharusnya konsisten untuk saya "tidak"kan (baca OBSESI dan PHOBIA).


Pada tanggal 23 November 2011, kami diundang kembali  oleh stasiun yang sama, untuk program yang sama, sebagai narasumber dengan tema sekolah inklusi. Kali ini, saya bertekad, tidak akan memberikan reward berupa ATM atau HP pada Rayhan. Jadi, saya menyiapkan banyak mainan mobil kecil-kecil, lego, dan majalah-majalah baru yang belum pernah dibacanya (padahal saya belinya juga bekas he he he...), juga camilan dan minum. Sedikit lega, karena shooting kali rekaman, dan akan ditayangkan minggu depan. Kami tetap bersemangat datang ke lokasi, karena lokasi pengambilan gambar di kawasan Agrowisata Kusuma Batu, kebetulan saya belum pernah mengajak Rayhan kesana.
Yang berbeda pada kesempatan kedua, program diawali dengan memasak menu spesial berbahan strawberry, dan juga mengundang seorang remaja penyandang autis yang telah bersekolah di sebuah SMK. Saya sangat tertarik dengan ide ini, karena ingin sekali melihat reaksi dan interaksi apabila dua penyandang autis yang berbeda usia 11 tahun duduk bersama.

Mas Rayhan justru sangat tertarik dengan Chef yang menyiapkan bahan-bahan memasak. Dia menyentuh satu persatu bahan, paprika, bawang bombay, tomat, dan strawberry. Kemudian dicium-cium semua bahannya satu persatu. Dia sangat tertarik dengan strawberry, karena selama ini belum pernah memegang langsung buah strawberry lengkap dengan daunnya. Tiba-tiba dia memakannya (he he he...) segigit, lalu segigit lagi... sampai habis... Lho kok ngambil lagi (he he he...). "Sudah mas, silahkan duduk di kursi.." kataku.. khawatir nanti tidak jadi memasak karena strawberrynya dihabiskan mas Rayhan. Bagi saya, peristiwa memakan buah strawberry ini merupak PRESTASI HEBAT untuk mas Rayhan, mengingat dia sangat membatasi buah yang dimakan, dipilih dan selalu menolak jenis buah yang baru dikenalnya (baca OBSESI DAN PHOBIA: TUMBUHAN dan BUAH).

Proses belajar dilanjutkan dengan bertemu dengan Mbak April. seorang penyandang autis yang telah bersekolah di sebuah SMK Negeri, dengan prestasi di bidang animasi yang hebat. Rayhan duduk di kursi sebelahnya, lalu saya mengeluarkan semua bekal kami, mainan, lego, buku, majalah, camilan (kacang atom) dan minuman sari jeruk. Ternyata justru Mbak April tertarik dengan semua bekal kami. Mbak April langsung membuat sebuah istana dari lego, dan membaca majalah yang kami bawa. dan, hebatnya mereka berdua, mereka bisa berbagi dan bergantian. Sesi satu berlangsung dengan tenang, mas Rayhan cukup nyaman dan tenang selama pengambilan gambar. Hanya sesekali dia berjalan ke arah chef dan minta jatah strawberry lagi (he he he). Meskipun pertanyaan dari host belum mampu dijawabnya dengan fokus, karena Rayhan lebih fokus ke strawberry yang sedang dimakannya.



Sesi kedua, adalah saat kami, orangtuanya ikut masuk dalam dialog. Kami berbagi pengalaman kami menyiapkan seorang anak penyandang autis untuk masuk sekolah umum, dan bergabung dengan siswa lainnya, serta mengikuti pelajaran seperti umumnya naka normal lainnya. Di tengah-tengah sesi kedua, Rayhan sempat minta pipis ke kamar mandi, dan saya membisikkan padanya untuk minta bantuan kepada Pak Lukman (Sekolah Dolan) membantunya mengantar ke kamar mandi. Saya sempat deg-degan, khawatir Rayhan menolak. Ternyata tidak, Rayhan berjalan pelan menuju pak Lukman dan bilang "mau pipis"... sementara kami tetap terus melanjutnya dialog. Saya pun menarik sedikit nafas lega. Lima menit sebelum berakhir, sempat terjadi tarik menarik gambar, saat Mbak April menunjukkan sebuah gambar yang dimiliknya kepada kamera. Rayhan penasaran dan langsung merebutnya tanpa ijin terlebih dahulu, dan Mbak April mempertahankan kertas gambar karena takut rusak. Akhirnya Rayhan berhasil menahan diri dan kembali berlangsung aman, tanpa ada sedikitpun mood yang hilang, baik Mbak April ataupun Rayhan.

Hari itu, shooting berakhir, dan kami pulang dengan terlebih dahulu berbelanja sekilo strawberry Grade A, yang sangat murah... 

Saat penayangan dialog, baik tema "Anak Hiperaktif" maupun "Sekolah Inklusi", ada cerita dimana Papa Rayhan sempat terharu dan menangis melihat tayangan dialog. Begitupun saya, dan beberapa orang teman yang melihat tayangan tersebut.Terima Kasih nak, kau yang terbaik bagi kami, orangtuamu. Senyum untuk mas Rayhan.

Tuesday, March 20, 2012

OBSESI dan PHOBIA 3: TAKUT TUMBUHAN dan BUNGA


Masih ingat dengan baik masa kecil Rayhan. Dia tidak pernah menolak makanan. Kami bisa dengan mudah menyediakan berbagai menu harian, yang berbeda-beda. Bahkan, ketika usia 15 bulan Rayhan harus diet susu sapi, telur ayam, daging ayam, dan ikan laut sehingga lauk yang disantapnya daging sapi, tahu, tempe, dan ikan tawar. Rayhan alergi terhadap makanan tersebut, yang muncul dalam bentuk ruam-ruam merah di kulit bagian punggung. Kami tidak mengalami banyak masalah dalam menyediakan menu untuknya. Semua menu disantapnya. Sayur sop, sayur asem, sayur lodeh, urap, botok, tumis, sayur rebus, nasi goreng daun singkong, omelet telur kacang panjang, sayur nangka, nasi pelangi... dan banyak yang lainnya. Tidak ada hal yang spesifik yang menunjukkan dia menolak atau tidak suka dengan tumbuhan. Yang saya ingat hanya satu hal, Rayhan selalu memungut dan membuang setiap daun kering yang tanpa sengaja tertiup angin dan masuk ke dalam rumah kami. dengan dua jari (telunjuk dan jempol), dia memungut dan membaawanya ke luar atau membuang ke tempat sampah. Waktu itu, kami berfikir, Rayhan suka kebersihan. Itu saja.

Kami terlewatkan untuk mencatat awal mula kejadiannya. Tiba-tiba, selera menu Rayhan berubah. sama sekali tidak mau ada sayur di dalam makanannya. Disembunyikan dalam bentuk bagaimanapun, dia akan mengetahuinya dengan indera penciuman dan perasanya (lidah). Makanannya hanya dalam bentuk lauk dan nasi saja. Kalaupun mau makan kuah sayur, harus berwarna bening, tanpa sedikitpun hijauan, meskipun hanya seledri iris.

Kami sampai kerepotan, karena berdampak pada siklus BABnya. Akhirnya kami menyediakan buah-buahan lebih banyak dari biasanya. Itupun, dia juga menjadi sangat pemilih. Rayhan hanya mau makan buah jeruk, mangga, lengkeng, rambutan, pisang, pir dan apel. Padahal, buah pir, apel, jeruk, dan pisang, hanya boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Buah nanas adalh buah yang terbaik untuk penyandang autis, dia menolaknya sama sekali.

Tiba-tiba juga, dia menolak semua jus dan sari buah yang kami sediakan setiap hari. Mencoba mengajaknya ke rumah makan, dia memilih es teh, atau es jeruk, dibanding jus buah. Kami bertambah kaget, ketika suatu waktu, di tempat terapinya, Rayhan mendapat tugas menyerahkan karangan bunga kepada pembicara seminar. Saat berlatih, Rayhan histeris dengan bunga yang diberikan kepadanya. Bunga plastik, ataupun buna hidup dicobakan, tetap saja Rayhan histeris. Padahal, di rumah kami banyak tanaman, dan Rayhan baik-baik saja melewati tanaman-tanaman itu. Mainan jatuh di rumput pun, tidak masalah baginya untuk mengambil sendiri, danmenginjak rumput tanpa alas kaki. Tapi, sangat antipati untuk memegang langsung tumbuhan atau bunganya. Baik tumbuhan buatan, ataupun tumbuhan alami.

Sampai saat ini, kami masih belum tahu apa penyebabnya, dan bagaimana solusinya. Kami berusaha melatih dari sedikit demi sedikit. Diawali dengan memegang tumbuhan. Rayhan suka sekali dengan hewan ternak. Saya sering mengajakna ke kandang, berjam-jam dia disana, dan melatihnya mengambil sedikit rumput untuk diberikan pada ternak. Begitu seterusnya. Akhirnya berhasil. Rayhan mulai mau memegang kembali tumbuhan, meskipun baru di dalam kandang. Selanjutnya, saya sering mengajaknya ke taman kota di alun-alun kota Batu. Di sana, saya menunjukkan banyak sekali tumbuhan dan bunga, dengan meminta Rayhan menyebutkan warna, atau saya menyebutkan warna dan Rayhan menunjukkan bunga atau daunnya. Usaha ini cukup berhasil, namun masih sangat sedikit. Rayhan bersedia menyentuh  daun, bunga, atau sayur-sayuran, tapi Rayhan masih enggan dan takut menyentuh bunga buatan di vas meja, masih belum mau makan dengan sedikitpun warna hijau, dan tetap memilih buah yang dimakannya, tetap menolak sari buah atau jus, apapun rasanya.

Ada satu hal penting lagi, kami berdoa kepada Allah, untuk membantu mengatasi rasa takutnya terhadap tumbuhan.. bahkan untuk hal yang sepele ini, kami meminta kebesaranNya untuk menolong kami, kepadaNyalah kami mohon pertolongan. Rayhan benar-benar menjadi sumber ilmu kami yang luar biasa. Allah maha besar telah menciptakannya untuk kami, dan orang di sekelilingnya, menimba ilmu, dan mengagungkanNya.